Pernahkah kalian merasakan bagaimana "one
side love" itu?? Sakitkah??? Atau senangkah?
Cerpen ini berkisah tentang remaja,
yang pernah merasakan apa itu one side
love. Cerpen ini pernah saya ikutkan lomba,
tapi kalah. Hehehe :) jadi daripada nganggur ndak
jelas di PC saya, lebih baik saya post
disini.
BIARKAN WAKTU MENJAWAB
Waduh tugas halaman 145?! Dikumpulkan besok?? Aduh bagaimana ini??
Belum rampung tugas yang lainnya, sekarang Pak Rozi menambahkan daftar tugasku
untuk mengerjakan buku paket halaman 145. Kenapa semua bertumpukan tidak karuan
seperti ini.
Aduh, tak tau yang harus diperbuat?? Pusing aku dibuatnya. Kemana perginya buku
paketku?? Hanya insting yang
membuatku yakin. Aduh, dimana ya???
Kucari di setiap sisi dan sudut rak buku, meja belajar, dan setiap ruangan di rumah.
Tetapi buku itu tak muncul juga. Kuputuskan untuk mencarinya lagi dengan lebih teliti. Kali ini aku mencarinya
di kamar, mungkin saja
saat kemarin mengerjakan PR di kamar, buku itu lupa
aku masukkan tas. Yah, ide bagus, sangat cemerlang. Di kasur, nihil. Di kolong ranjang, nihil.
Di almari, baju semua. Mana mungkin ada bukunya. Tapi tak ada salahnya mencoba. Meski itu terlihat seperti orang idiot,
menurutku. Setiap celah dan helai baju
di almari aku jelajahi tidak ada satupun yang terlewatkan. Sepertinya tanganku menyentuh sesuatu yang keras dan sedikit kasar.
Sepertinya itu sebuah kotak. Ya, itu
adalah sebuah kotak. Perlahan aku ambil kotak berwarna coklat itu dan aku
buka tutupnya. Banyak benda bersejarah yang aku simpan disana. Mulai dari benda – benda unik yang aku temukan waktu aku kecil dulu, foto bareng temen-temen, dan diary SMP ku. Ya, tidak ada salahnya kubuka lagi diary SMP ku ini, hanya sekedar mencari inspirasi untuk
tugas membuat cerpen Bahasa Indonesia. Setelah
halaman pertama, kedua, ketiga... rupanya senyum kecil mulai meraih bibir
mungil ini. Lembar demi lembar kertas
kusut ini mulai
menarik untuk dibaca lagi dan lagi. Kisah masa SMP - ku. Sedih maupun
senang, penting dan tidak
penting. Mengharukan ataupun
menyenangkan, Semua terbayang lagi. Terutama kisah ini….
Terbayang lagi kenangan setahun lalu. Anganku mulai melayang kemasa – masa yang
takkan terlupa itu. Saat itu aku baru saja naik kelas 9, dan awal masuk setelah libur
kenaikan kelas adalah waktunya pembagian kelas.
“ Kamu kelas 9 apa? Kamu kelas 9 apa?”
“Kita satu kelas tidak”
Kata itu yang ku dengar dimana – mana. Setelah tahu bahwa aku masuk di kelas 9A dengan
beberapa teman baru di kelas yang baru pula, kami akhirnya diberi kebebasan. Boleh pulang, jajan – jajan, jalan – jalan, terserah. Aku berniat menemui NyaNya, teman sebangkuku waktu kelas 8. Kami sudah sangat akrab, bagaimana tidak, kami adalah
teman satu SD. Kami pun memutuskan hanya duduk santai sambil menikmati minuman
dingin 1000-an.
Sambil mengamati adik – adik kelas 7 yang masih mengenakan seragam
olahraga dari SD mereka,
karena mereka belum mendapat seragam SMP.
Mereka terlihat lucu jika berkumpul. Warna-warni. Tiba-tiba lewat seorang siswa
berseragam olahraga, yang kami yakin pasti
dia dari SD yang sama dengan kami karena
seragam olahraganya yang berwarna pink itu sangat mencolok
di antara banyak siswa disana. Kucoba tanya namanya. “DICKY”. Masih terngiang
dalam benakku, nama itu. Manis juga… batinku. Tapi kenapa sebelumnya aku tidak
pernah mengenalnya. Dan
bahkan sepertinya bertemupun juga tidak.
Ini dia kebiasaan ku dan NyaNya dari dulu, melihat lembar demi lembar
daftar nama siswa baru yang diterima di SMP kami. Hanya berlandaskan pada keisengan semata. Siapa tahu ada nama adik-adik kelas kami yang enak untuk dijadikan bahan candaan.
"Eh~ nama anak ini kayak artis ya?!"
"Iya.."
"Hahahaha"
(sungguh jahat -__- mempermainkan nama orang #janganditiru)
Kami melihat dan meneliti satu – satu nama disana. Dari mulai urutan nomor 1, sampai urutan nomor 288. Ternyata anak – anak dari SD kami banyak yang diurutan atas. Senang rasanya. Tiba – tiba mataku tertuju pada salah satu nama.
Febrian Dicky Ratna Putra. Hah, lagi-lagi
nama yang lucu ada dihadapanku.
"Eh liat nih. Aneh nggak sih? Bukankah Ratna dan Febri itu nama perempuan? Sedangkan Dicky dan Putra itu nama laki-laki. Apakah dia gabungan dari perempuan dan laki-laki?"
"Hahaha" lagi-lagi tertawa setan -__-
Eh. Dicky.. Dicky.. Tunggu! Mungkinkah ini nama lengkap dari anak tadi. Sepertinya sekarang aku sudah lupa dengan wajahnya yang manis itu, coba kuingat. Ah, aku benar-benar lupa. Kenapa bisa lupa? Bagaimana sih wajahnya, aduh. Bukankah baru beberapa menit kami bertemu, kenapa bisa aku lupa akan wajahnya yang manis itu? >,<
Akhirnya...
Hari demi hari akhirnya kulewati begitu saja bersama teman – teman kelas 9-ku. Kira-kira waktu itu saat jam pelajaran ke-2 aku
melihat segerombol anak kelas 7
lewat didepan kelasku. Ada 6 – 8 siswa, tentunya mereka sudah memakai
seragam SMP mereka ya~
Mereka melintas didepan kelasku, menuju kearah timur. Ada satu siswa yang menengok
kearahku sambil tersenyum. Apakah
itu Dicky, ah apa benar?? Aku benar-benar tidak ingat. Aku meragukan itu. Tapi,
manisnya.
Sampai pada suatu hari, saat pulang sekolah, aku bertemu lagi dengan dia, aku lihat tag
namanya. Betapa terkejutnya aku. "KEVIN”, oh jadi namanya bukan Dicky, tapi Kevin.
Lambat laun aku mulai tau mana yang namanya Dewi, Ima,
Rico, Danang dll. Bahkan aku
sudah bisa membedakan mana Dicky dan mana yang Kevin. Yah, meski satu SD tapi aku tidak
banyak kenal dengan adik– adik kelasku itu. Lama-lama sepertinya aku mulai tertarik
dengan salah satu adik kelasku itu.
Dari
beberapa temannya aku tahu ternyata dia pernah menjadi pacar Alice, yang aku
tahu Alice itu centil dan kecentilan sok cantik, sok berkuasa, sok imut dan
maunya menang sendiri. Tapi akhirnya mereka putus juga, kasian. Dan kata mereka
pula waktu Kevin di putusin sama Alice, dia terlihat sangat marah dan sangat
terpukul. Sakti sekali si Alice itu. Bikin nangis. Tetapi kalau aku lihat,
sepertinya dia masih berharap banyak pada Alice. Hemh… aku sedikit kecewa
mendengarnya. Memang jika dilihat, siapa yang akan menolak untuk jadi pacar
Alice. Dia memang tidak putih dan tidak tinggi pula. Tetapi dia pandai bersolek
dan aku akui, dia memang manis, perlu digaris bawahi bukan cantik, tapi
manis. Tetapi, yang membuat aku sedikit tidak suka pada dia adalah sikapnya
yang kurang, bahkan sangat kurang baik menurutku, tidak sewajarnya dia seperti
itu. Apa lagi dia masih tiga tahun dibawahku.
Aku memang tidak terlalu berterus terang pada
Kevin, tetapi apakah dia tidak bisa
menagkap sinyal – sinyal yang aku berikan kepadanya selama ini?? Tetapi tak apalah untuk
sekedar dapat melihatnya saja aku sudah senang. Dan aku
menyebut diriku sebagai “Pengagum Rahasia”.
UNAS pun selesai dan akhirnya Purna Wiyata pun tiba. Para tamu menikmati pertunjukan dari adik-adik kelas kami. Dari mulai penampilan ekstrakulikuler, band bahkan
Girlband pun ada. Berbakat sekali murid-murid di SMP kami ya.. Haha, mereka lucu. Aku juga melihat Kevin
sangat menikmati acara itu. Oh, Senyumnya..
Setelah acara Purna Wiyata selesai, seperti biasa
aku pulang sendirian dan berhenti di
salah satu toko didekat sana, untuk menikmati es 500-an. Ah … Segarnya. Kelihatannya ada seseorang yang sangat aku kenal di jarak 100 meter
didepan mataku. Benar saja, itu Kevin. Tapi kenapa dia pulang jalan kaki? Bukankah biasanya
dia berangkat naik sepeda??? Sampai akhirnya lebih dekat, lebih dekat, sampai akhirnya dia melewatiku. Beberapa langkah setelah melewatiku, aku segera membayar es yang tadi
aku minum dan pergi dari toko itu lalu berusaha menyusulnya. Setelah berada tepat di sampingnya, aku mulai mengurangi laju sepedaku. Aku tawari dia untuk pulang bareng, dan dia mau. Oh, senangnya. Aku memulai dengan pertanyaan santai.
“K-kok tumben kamu pulang jalan kaki, Vin??”
ternyata saya masih gugup -___-
Jam 19.00, di dusunku juga ada acara, semacam perayaan kelulusan anak- anak TK.
Aku kesana hanya untuk jalan-jalan dengan sahabat - sahabatku.
Dan, aku melihatnya sedang bersama teman-temannya . Saat dia pergi ke sebuah toko
di sekitar sana sendirian, aku menemuinya dan ku tanya apakah dia sudah mendapat tiket.
“Belum, Mbak”
Kami pun sama – sama pergi dari tempat itu. Karena hal itu, aku terpaksa berbohong pada
teman-temanku. Aku bilang pada mereka
kalau tiketku hilang.
“Tadi kira-kira jatuhnya dimana??” tanya Fay.
Maaf ya teman – teman aku sudah berbohong pada kalian. T_T
Tapi semua keresahanku
terbayar,
ternyata masih ada tiketnya. Kami pun melihat Pentas Seni
dengan hati senang.
Tapi selama pertunjukan, aku
tidak melihat tanda-tanda Kevin disana, apakah dia tidak datang. Huft, aku begitu kecewa
dibuatnya. Bagaimana tidak,
aku sampai harus berbohong kepada sahabat-sahabatku demi dia, agar dapat
melihat Pentas Seni. Tapi dia abaikan begitu saja. T_T
Sekarang,
aku berada di bangku SMA. Lambat laun rasa itu, sedikit demi sedikit terkikis
begitu saja. Dan aku sempat mendengar desas desus bahwa Kevin sekarang berubah.
Sangat berbeda dengan Kevin yang dulu aku kenal. Dia suka merokok dan berkata
kasar. Aku sangat benci cowok yang seperti itu, tapi ini Kevin. Seseorang yang
pernah aku dambakan, meskipun dia tidak pernah memahami itu. Seseorang yang
sulit untuk aku palingkan bahkan oleh hatiku sendiri. Betapa kagetnya aku
mendengar itu. Aku ingin dia berubah menjadi Kevin yang dulu. Yang selalu bisa
membuat aku tersenyum melihat semua kebaikannya. Tapi apa dayaku, aku hanya..
ah, aku bukan siapa-siapa?! Bahkan, mungkin dia tidak mengenalku.
Mungkinkah ini artinya aku harus melupakannya. Sampai sekarangpun dia belum tahu kalau aku menyukainya. Atau mungkin dia tahu, mungkin tidak. Aku tidak pernah tahu perasaannya. Mungkin saat inilah pepatah ini di gunakan. Biarkan waktu yang menjawab.

0 komentar:
Posting Komentar