Jumat, 31 Mei 2013

"CERPEN ONE SIDE LOVE : BIARKAN WAKTU MENJAWAB"

Pernahkah kalian merasakan bagaimana "one side love" itu?? Sakitkah??? Atau senangkah? Cerpen ini berkisah tentang remaja, yang pernah merasakan apa itu one side love. Cerpen ini pernah saya ikutkan lomba,  tapi kalah. Hehehe :) jadi daripada nganggur ndak  jelas di PC saya, lebih baik saya post  disini.


BIARKAN WAKTU MENJAWAB

Waduh tugas halaman 145?! Dikumpulkan besok?? Aduh bagaimana ini??  Belum rampung tugas  yang lainnya, sekarang Pak Rozi menambahkan daftar tugasku untuk mengerjakan buku paket halaman 145. Kenapa semua bertumpukan tidak karuan seperti ini.


Aduh, tak tau yang harus diperbuat?? Pusing aku dibuatnyaKemana  perginya  buku  paketku?? Hanya insting yang membuatku yakin. Aduh, dimana ya???  Kucari di setiap sisi dan sudut rak buku, meja belajar, dan setiap ruangan di rumah. Tetapi buku itu tak muncul juga. Kuputuskan untuk mencarinya lagi dengan lebih teliti. Kali ini aku  mencarinya di kamar, mungkin saja saat kemarin mengerjakan PR di kamar, buku itu lupa aku masukkan tas. Yah, ide bagus, sangat cemerlang. Di kasur, nihil. Di kolong ranjang nihil. Di almari, baju semua. Mana mungkin ada bukunya. Tapi tak ada salahnya mencoba. Meski itu terlihat seperti orang idiot, menurutku. Setiap celah  dan helai baju di almari aku jelajahi tidak ada satupun yang terlewatkan.  Sepertinya tanganku  menyentuh sesuatu yang keras dan sedikit kasar. Sepertinya itu sebuah kotak. Ya, itu adalah sebuah kotak. Perlahan aku ambil kotak berwarna coklat itu dan aku  buka  tutupnya. Banyak benda bersejarah yang aku simpan disana. Mulai dari benda  benda  unik yang aku temukan waktu aku  kecil dulu, foto bareng temen-temen, dan diary SMP ku. Ya, tidak ada salahnya kubuka lagi diary SMP ku ini, hanya sekedar mencari inspirasi untuk tugas membuat cerpen Bahasa Indonesia. Setelah halaman pertama, kedua, ketiga... rupanya senyum kecil mulai meraih bibir mungil ini. Lembar demi lembar kertas   kusut ini mulai menarik untuk dibaca lagi dan lagi. Kisah masa SMP - ku. Sedih maupun  senang, penting dan tidak penting. Mengharukan ataupun menyenangkan, Semua terbayang lagi. Terutama kisah ini….

Terbayang lagi kenangan setahun lalu. Anganku mulai melayang kemasa  masa yang  takkan  terlupa itu. Saat itu aku baru saja naik kelas 9, dan awal masuk setelah libur  kenaikan kelas adalah waktunya pembagian kelas.

“ Kamu kelas 9 apa? Kamu kelas 9 apa?”
“Kita satu kelas tidak”

Kata itu yang ku dengar dimana  mana. Setelah tahu bahwa aku masuk di kelas 9A dengan beberapa teman baru di kelas yang baru pula, kami akhirnya diberi kebebasan. Boleh  pulang,  jajan  jajan, jalan  jalan, terserah. Aku berniat menemui NyaNya, teman  sebangkuku waktu kelas 8. Kami sudah sangat akrab, bagaimana tidak, kami adalah  teman satu SD.  Kami pun memutuskan hanya duduk santai sambil menikmati minuman  dingin 1000-an.  Sambil mengamati adik  adik kelas 7 yang masih mengenakan seragam  olahraga  dari SD  mereka, karena mereka belum mendapat seragam SMP.  Mereka terlihat lucu jika  berkumpul.  Warna-warni. Tiba-tiba lewat seorang siswa  berseragam olahraga, yang kami yakin pasti dia dari SD yang sama dengan kami karena  seragam olahraganya  yang berwarna pink itu sangat mencolok di antara banyak siswa  disana. Kucoba tanya namanya. “DICKY”.  Masih terngiang dalam benakku, nama itu.  Manis juga… batinku Tapi kenapa sebelumnya aku tidak pernah mengenalnya. Dan  bahkan sepertinya  bertemupun juga tidak.

Ini dia kebiasaan ku dan NyaNya dari dulu, melihat lembar demi lembar daftar nama siswa baru yang diterima di SMP kami. Hanya berlandaskan pada keisengan semataSiapa tahu ada nama adik-adik kelas kami yang enak untuk dijadikan bahan candaan. 

"Eh~ nama anak ini kayak artis ya?!"
"Iya.."
"Hahahaha" (sungguh jahat -__- mempermainkan nama orang #janganditiru)

Kami melihat dan meneliti  satu  satu nama disana. Dari mulai urutan nomor 1, sampai  urutan nomor 288. Ternyata anak  anak dari SD kami banyak yang diurutan atas.  Senang rasanya. Tiba  tiba mataku tertuju pada salah satu nama. 
Febrian Dicky Ratna Putra.  Hah, lagi-lagi nama yang lucu ada dihadapanku.

"Eh liat nih. Aneh nggak sih? Bukankah Ratna dan Febri itu nama perempuan? Sedangkan  Dicky dan Putra itu nama laki-laki. Apakah dia gabungan  dari perempuan dan laki-laki?" 
"Hahaha" lagi-lagi tertawa setan -__-

Eh. Dicky.. Dicky.. TungguMungkinkah ini nama  lengkap dari anak tadiSepertinya sekarang aku sudah lupa dengan wajahnya  yang manis itu, coba kuingat. Ah, aku benar-benar lupaKenapa bisa lupaBagaimana sih wajahnya, aduh. Bukankah baru beberapa menit kami bertemu, kenapa bisa aku lupa akan wajahnya yang manis itu? >,<

Akhirnya... Hari demi hari akhirnya kulewati begitu saja bersama teman  teman kelas 9-ku. Kira-kira waktu itu saat jam pelajaran ke-2 aku melihat segerombol anak kelas 7 lewat didepan kelasku. Ada 6 – 8 siswa, tentunya mereka sudah memakai seragam SMP mereka ya~   Mereka melintas didepan kelasku, menuju kearah timur. Ada satu siswa yang menengok kearahku sambil tersenyum. Apakah itu Dicky, ah apa benar?? Aku benar-benar tidak ingat.  Aku meragukan itu. Tapi, manisnya.

Sampai pada suatu hari, saat pulang sekolah, aku bertemu lagi dengan dia, aku lihat tag 
namanya. Betapa terkejutnya aku. "KEVIN”, oh jadi namanya bukan Dicky, tapi Kevin.  Lambat laun aku mulai tau mana yang namanya Dewi, Ima, Rico, Danang dll. Bahkan aku sudah bisa membedakan mana Dicky dan mana yang KevinYahmeski satu SD tapi aku tidak banyak kenal dengan adik adik kelasku itu. Lama-lama sepertinya aku mulai tertarik dengan salah satu adik kelasku itu

Dari beberapa temannya aku tahu ternyata dia pernah menjadi pacar Alice, yang aku tahu Alice itu centil dan kecentilan sok cantik, sok berkuasa, sok imut dan maunya menang sendiri. Tapi akhirnya mereka putus juga, kasian. Dan kata mereka pula waktu Kevin di putusin sama Alice, dia terlihat sangat marah dan sangat terpukul. Sakti sekali si Alice itu. Bikin nangis. Tetapi kalau aku lihat, sepertinya dia masih berharap banyak pada Alice. Hemh… aku sedikit kecewa mendengarnya. Memang jika dilihat, siapa yang akan menolak untuk jadi pacar Alice. Dia memang tidak putih dan tidak tinggi pula. Tetapi dia pandai bersolek dan aku akui, dia memang manis, perlu digaris bawahi bukan cantik, tapi manis. Tetapi, yang membuat aku sedikit tidak suka pada dia adalah sikapnya yang kurang, bahkan sangat kurang baik menurutku, tidak sewajarnya dia seperti itu. Apa lagi dia masih tiga tahun dibawahku.

Aku memang tidak terlalu berterus terang pada Kevin, tetapi apakah dia tidak bisa menagkap sinyal  sinyal yang aku berikan kepadanya selama ini??  Tetapi tak apalah untuk sekedar dapat melihatnya saja aku sudah senang. Dan aku  menyebut diriku sebagai “Pengagum Rahasia”.

UNAS pun selesai dan akhirnya Purna Wiyata pun tiba. Para tamu menikmati pertunjukan dari adik-adik kelas kami. Dari mulai penampilan ekstrakulikuler, band bahkan  Girlband  pun  ada. Berbakat sekali murid-murid di SMP kami ya.. Haha, mereka lucu  Aku juga melihat Kevin sangat menikmati acara itu. Oh, Senyumnya.. Setelah acara Purna Wiyata selesai, seperti biasa aku pulang sendirian dan berhenti di  salah satu toko didekat sana, untuk menikmati es 500-an. Ah … Segarnya. Kelihatannya ada seseorang yang sangat aku kenal di jarak 100 meter  didepan mataku. Benar saja, itu Kevin. Tapi kenapa dia pulang jalan kaki? Bukankah biasanya  dia berangkat naik sepeda??? Sampai akhirnya lebih dekat, lebih dekat, sampai akhirnya  dia melewatiku. Beberapa langkah setelah melewatiku, aku segera membayar es yang tadi aku minum dan pergi dari toko itu lalu berusaha menyusulnya. Setelah berada tepat di sampingnya, aku mulai mengurangi laju sepedaku. Aku tawari dia untuk pulang bareng, dan dia mau.  Oh, senangnya. Aku memulai dengan pertanyaan santai.

“K-kok tumben kamu pulang jalan kaki, Vin??” ternyata saya masih gugup -___-
“Iya Mbak, tadi berangkatnya kan pagi, jadi aku minta di antar.”
“Oh. Ehm.., besok kamu lihat Acara Seni disekolah ndak??”
“Endak kayaknya Mbak. Tadi aku lupa beli tiketnya.”
“Oh, gitu. Oh ya kamu di anter sampai mana ini??”
“Sampai perempatan saja Mbak”

Jam 19.00, di dusunku  juga ada acara, semacam perayaan kelulusan anak- anak TK.  Aku kesana hanya untuk jalan-jalan dengan sahabat - sahabatku. Dan, aku melihatnya sedang bersama teman-temannya . Saat dia pergi ke sebuah toko  di sekitar sana sendirian, aku menemuinya dan ku tanya apakah dia sudah mendapat tiket.

“Belum, Mbak”
“Kalau begitu. Ini tiketku, buat kamu saja. Hitung-hitung untuk menebus tali sepatu kamu yang rusak  tadi. “
“Oh, nggak perlu, Mbak. Lagipula kalau tiket ini buat saya, besok Mbak nggak bisa  kesana.”
“Oh, ndak apa. Besok aku ada acara sendiri. Jadi percuma kan kalau tiket ini dibuang.”
“Ya sudahlah, makasih ya Mbak.”
“Iya sama-sama”

Kami pun sama  sama pergi dari tempat itu. Karena hal itu, aku terpaksa berbohong pada teman-temanku. Aku bilang pada mereka  kalau tiketku hilang.

“Tadi kira-kira jatuhnya dimana??” tanya Fay.
“Lebih baik kita cari saja, siapa tau ada di sekitar sini” kata Vicky memberi usul.
“Sudahlah , teman  teman ndak apa. Lagipula bukankah kalian bisa pergi kesana tanpa aku,  aku ndak apa kok” cegahku, aku tidak mau merepotkan mereka atas kebohonganku.
“Pokoknya kita ndak mau kesana, ndak  berangkat satu, ya ndak berangkat semua.”  kata Sisi tegas.
“Baiklah, Kita akan tetap berangkat bersama besok. Mungkin besok tiketnya bisa aku beli saat  pentasnya” kataku meredam suasana.
“Ya sudah, semoga masih ada ya, pokoknya kami ndak akan nonton kalau kamu ndak  nonton.” Tegas Sisi lagi
“Iya aku janji” kataku santai, tapi masih sangat merasa bersalah. Bagaimana jika tiketnya  sudah habis dan mereka akan sangat kecewa.

Maaf ya teman  teman aku sudah berbohong pada kalian. T_T
Tapi semua keresahanku  terbayar,  ternyata masih ada tiketnya. Kami pun melihat Pentas Seni dengan hati senang.  Tapi selama pertunjukan, aku  tidak melihat tanda-tanda Kevin disana, apakah dia tidak datang. Huft, aku begitu kecewa  dibuatnya. Bagaimana tidak, aku sampai harus berbohong kepada sahabat-sahabatku demi dia, agar dapat melihat Pentas Seni. Tapi dia abaikan begitu saja. T_T

Sekarang, aku berada di bangku SMA. Lambat laun rasa itu, sedikit demi sedikit terkikis begitu saja. Dan aku sempat mendengar desas desus bahwa Kevin sekarang berubah. Sangat berbeda dengan Kevin yang dulu aku kenal. Dia suka merokok dan berkata kasar. Aku sangat benci cowok yang seperti itu, tapi ini Kevin. Seseorang yang pernah aku dambakan, meskipun dia tidak pernah memahami itu. Seseorang yang sulit untuk aku palingkan bahkan oleh hatiku sendiri. Betapa kagetnya aku mendengar itu. Aku ingin dia berubah menjadi Kevin yang dulu. Yang selalu bisa membuat aku tersenyum melihat semua kebaikannya. Tapi apa dayaku, aku hanya.. ah, aku bukan siapa-siapa?! Bahkan, mungkin dia tidak mengenalku.

Mungkinkah ini artinya aku harus melupakannya. Sampai sekarangpun dia belum tahu kalau aku menyukainya. Atau mungkin dia tahu, mungkin tidak. Aku tidak pernah tahu perasaannya. Mungkin saat inilah pepatah ini di gunakan. Biarkan waktu yang menjawab.


SELESAI

0 komentar:

Posting Komentar