Senin, 24 Juni 2013

Berslimut Kenangan (Cerpen)


Hari ini, hari – hari terakhir Ujian Kenaikan Kelas bagi Rena, inilah minggu – minggu penentuan baginya. 

“Kurang 2 hari lagi, ujian ini selesai”. Batinnya. 

Ada dua pelajaran yang di ujikan untuk hari ini, dan keduanya adalah pelajaran yang paling disukainya. Biologi dan Bahasa Indonesia. Meskipun jarang sekali untuk ia mendapatkan nilai yang bagus di kedua pelajaran ini. Pelajaran biologi yang di ujikan hari ini, dirasanya sedikit mudah. Begitu juga dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Setidaknya tak sesulit Kimia, hatinya kecilnya tertawa. Sampai – sampai saat ujian Bahasa Indonesia yang waktunya 1,5 jam dirasanya sangat lambat, 40soal itu telah selesai dengan sisa waktu 30menit. Karena belum ada temannya yang mengumpulkan hasil kerjanya, ia putuskan untuk menunggu teman yang lainnya. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi, selain duduk tenang di kursinya.  


Matanya menuju keluar ruangan, tapi pandangannya kosong. Ingatannya kembali melayang. Biasanya, menjelang pulang sekolah seperti ini, temannya akan berada disamping pintu. Dan menunggunya selesai mengerjakan ujian. Dan mereka akan berjalan bersama di tempat parkir sambil bercerita pengalaman ujian hari ini. Tapi sekarang, sepertinya sosok itu tak akan dilihatnya lagi. Temannya yang ceria, penuh canda dan tawa. Yang selalu mengerti keadaannya, tempat berbagi senang dan duka. Teman yang terbaik untuknya. Temannya itu telah berpulang kerumah Sang Pencipta yang damai disana, karena sakit yang dirasanya cukup singkat tapi menyakitkan. Rabu, 20 Februari 2013. Hari yang paling berat baginya. Jika ingat waktu  itu, dadanya terasa sesak. Di hari itulah temannya dikebumikan. Pagi itu, dia berangkat seperti biasa ke sekolah. Tak ada rasa yang menjanggal apapun. Sampai dari kejauhan, ada salah satu teman kelasnya bertanya akan keadaan teman sebangkunya itu, yang sudah sekitar lima hari tidak masuk sekolah. Tapi dia hanya menjawab santai bahwa dia juga sudah jarang berkomunikasi dengan temannya itu.  Jadi ia tak tahu apapun soal temannya itu.

“Kamu yang sabar ya Ren, *Dia* sudah meninggal” kata salah seorang temannya. Ingin kata itu tak lewat ditelinganya. Karena hal itu justru akan membuatnya sangat terpukul. Tapi telinganya itu tak tuli. Dia berharap itu tidak benar – benar terjadi.  Ia hanya bisa perpikir positif seperti kata teman – temannya, mudah – mudahan besok dia masih bisa melihat wajah ceria temannya itu. Tapi ternyata takdir memecah pikiran positif itu, seorang Wakasek datang dengan membawa berita duka. Air mata pun pecah diseisi kelas. Semua tak percaya. Di hari terkhir mereka bertemu, temannya itu  masih terlihat segar bugar, ceria, bahkan tak ada satu tandapun yang membuat semuanya cemas akan keadaan temannya itu. Dia masih bisa menghibur mereka dengan tawa dan kejailannya. Semua menangis, dan beberapa teman berusaha menenangkan Rena yang terlihat sangat terpukul. Setelah agak tenang, mereka pergi ke rumah duka. Murid laki – laki mengikuti sholat jenazah dan yang lainnya menunggu di samping rumah. Setelah disholati, jenazahnya dimakamkan dipemakaman setempat. Saat dimakamkan Rena tak sanggup melihat wajah temannya itu. Hanya kakinya yang ia pandang, ia tak ingin menangis lagi. Ini jalan dari Tuhan. Semua itu sudah takdir dan tak ada yang bisa melawan.

Setelah dikebumikan, mereka pulang dengan rasa berat. Tapi rasa itu seharusnya tak berlanjut terus menerus. Biarlah kenangannya hidup dihati orang yang pernah mengenalnya. Inilah perjalanan hidupnya. Ia telah menjalankan misinya dibumi dengan baik, tinggal kitalah yang harus menyelesaikan misi kita dibumi ini. Kini tak ada bagi Rena wajah ceria, jail, humoris, pengertian, seperti temannya itu. Kenangan itu hanya akan hidup dihatinya.Matanya terasa berkaca – kaca. Sampai sebuah suara mengalun cepat di telinganya.

“Ren...Ren..." suara temannya setengah berbisik.


Rena segera sadar dari lamunannya dan menoleh ke sebelah kiri. Temannya lantas menunjukkan jari manis, tengah dan kelingking yang ada di tangan kanan lalu di susul dengan jari telunjuk di tangan kiri. Sambil berkata “Tiga Satu” Rena tahu maksudnya dan segera mengangkat jari telunjuk di tangan kanannya. Temannya itu, lalu segera berpaling. Rupanya kurang 10menit lagi ujian selesai. Pantas saja kelas terasa gaduh. Tak lama setelah itu salah satu teman maju, dan terlihat mengumpulkan hasil kerjanya. Yang lain lalu menyusul, begitupun Rena. Setelah selesai secepatnya ia meninggalkan ruangan dan pulang kerumah untuk melampiaskan rasa kangennya sambil menangis.Dirumah dibukanya laptop miliknya dan segera membuka akun Facebook-nya. Ia lantas melihat daftar obrolan di pojok kanan bawah. Masih ada nama temannya disana. Dibukanya dan dibacanya pesan – pesan yang pernah mereka bicarakan di akun facebook mereka. Penuh dengan canda dan kekonyolan. Matanya kembali berkaca, dan kali ini ia teteskan itu. Jari lentiknya mecoba meraih tombol – tombol keyboard yang ada di depannya. Dan mulai mengetik kata demi kata. Meski yakin pesannya takkan dibalas, ia selalu menuliskan sesuatu ke pesan temannya itu. Meski kata itu hanya berupa sapaan “Hai”. Untuk melepas rasa rindunya akan sosok teman tercinta.

0 komentar:

Posting Komentar