Hari ini, hari – hari
terakhir Ujian Kenaikan Kelas bagi Rena, inilah minggu – minggu
penentuan baginya.
“Kurang 2 hari lagi, ujian ini
selesai”. Batinnya.
Ada dua pelajaran yang di ujikan
untuk hari ini, dan keduanya adalah pelajaran yang paling disukainya. Biologi
dan Bahasa Indonesia. Meskipun jarang sekali untuk ia mendapatkan nilai yang
bagus di kedua pelajaran ini. Pelajaran biologi yang di ujikan hari ini,
dirasanya sedikit mudah. Begitu juga dengan pelajaran Bahasa Indonesia.
Setidaknya tak sesulit Kimia, hatinya kecilnya tertawa. Sampai – sampai saat
ujian Bahasa Indonesia yang waktunya 1,5 jam dirasanya sangat lambat, 40soal
itu telah selesai dengan sisa waktu 30menit. Karena belum ada temannya yang
mengumpulkan hasil kerjanya, ia putuskan untuk menunggu teman yang lainnya. Tak
ada yang bisa ia lakukan lagi, selain duduk tenang di kursinya.
Matanya menuju keluar ruangan,
tapi pandangannya kosong. Ingatannya kembali melayang. Biasanya, menjelang
pulang sekolah seperti ini, temannya akan berada disamping pintu. Dan
menunggunya selesai mengerjakan ujian. Dan mereka akan berjalan bersama di tempat
parkir sambil bercerita pengalaman ujian hari ini. Tapi sekarang, sepertinya
sosok itu tak akan dilihatnya lagi. Temannya yang ceria, penuh canda dan tawa.
Yang selalu mengerti keadaannya, tempat berbagi senang dan duka. Teman yang
terbaik untuknya. Temannya itu telah berpulang kerumah Sang Pencipta yang damai
disana, karena sakit yang dirasanya cukup singkat tapi menyakitkan. Rabu,
20 Februari 2013. Hari yang paling berat baginya. Jika ingat waktu itu,
dadanya terasa sesak. Di hari itulah temannya dikebumikan. Pagi itu, dia
berangkat seperti biasa ke sekolah. Tak ada rasa yang menjanggal apapun. Sampai
dari kejauhan, ada salah satu teman kelasnya bertanya akan keadaan teman
sebangkunya itu, yang sudah sekitar lima hari tidak masuk sekolah. Tapi dia hanya
menjawab santai bahwa dia juga sudah jarang berkomunikasi dengan temannya itu.
Jadi ia tak tahu apapun soal temannya itu.
“Kamu yang sabar ya Ren, *Dia* sudah meninggal” kata salah seorang temannya. Ingin kata itu tak lewat ditelinganya. Karena hal itu justru akan membuatnya sangat terpukul. Tapi telinganya itu tak tuli. Dia berharap itu tidak benar – benar terjadi. Ia hanya bisa perpikir positif seperti kata teman – temannya, mudah – mudahan besok dia masih bisa melihat wajah ceria temannya itu. Tapi ternyata takdir memecah pikiran positif itu, seorang Wakasek datang dengan membawa berita duka. Air mata pun pecah diseisi kelas. Semua tak percaya. Di hari terkhir mereka bertemu, temannya itu masih terlihat segar bugar, ceria, bahkan tak ada satu tandapun yang membuat semuanya cemas akan keadaan temannya itu. Dia masih bisa menghibur mereka dengan tawa dan kejailannya. Semua menangis, dan beberapa teman berusaha menenangkan Rena yang terlihat sangat terpukul. Setelah agak tenang, mereka pergi ke rumah duka. Murid laki – laki mengikuti sholat jenazah dan yang lainnya menunggu di samping rumah. Setelah disholati, jenazahnya dimakamkan dipemakaman setempat. Saat dimakamkan Rena tak sanggup melihat wajah temannya itu. Hanya kakinya yang ia pandang, ia tak ingin menangis lagi. Ini jalan dari Tuhan. Semua itu sudah takdir dan tak ada yang bisa melawan.
Setelah dikebumikan, mereka pulang dengan rasa berat. Tapi rasa itu seharusnya tak berlanjut terus menerus. Biarlah kenangannya hidup dihati orang yang pernah mengenalnya. Inilah perjalanan hidupnya. Ia telah menjalankan misinya dibumi dengan baik, tinggal kitalah yang harus menyelesaikan misi kita dibumi ini. Kini tak ada bagi Rena wajah ceria, jail, humoris, pengertian, seperti temannya itu. Kenangan itu hanya akan hidup dihatinya.Matanya terasa berkaca – kaca. Sampai sebuah suara mengalun cepat di telinganya.
“Ren...Ren..." suara
temannya setengah berbisik.

0 komentar:
Posting Komentar