Senin, 09 Februari 2015

Patah Hati Sebelum PDKT


Readers, haii. Ketemu lagi. Kali ini topik kita agak sensitive nih, tapi bukan bacaan yang berat kok, santai aja. Hemh.. Ada yang  tau gimana rasanya patah hati??  Kalau nggak salah bahasa inggrisnya itu “broken heart”, dan emiticon-nya kayak gini </3.


Gue jarang patah hati (yang sampek berlarut-larut). Kalau lagi ada masalah “percintaan”, yang gue lakukan paling cuma pergi ke kamar, kunci pintu, nangis, peluk boneka panda hadiah ultah tahun kemarin, sambil  bertanya pada diri gue sendiri “Kenapa?? Kenapa ending-nya kayak gini??”, terus ngambek nggak makan barhari-hari ketiduran, pas bangun semua seakan berlalu begitu saja. Biasanya setelah nangis kayak gitu, perasaan jadi agak plong. Emang sih nggak sepenuhnya, tapi setidaknya semua sudah baik-baik saja. Dan gue selalu menemukan jawaban yang sama setiap gue selesai nangis, ”Ini udah jalannya, kita emang nggak ditakdirkan bersama”. Kalau dipikir-pikir bodoh juga nangisin dia, toh ternyata hidup gue baik-baik aja. Ada banyak hal yang masih patut disyukuri daripada galau karena patah hati. Jurur, untuk saat ini gue belum pernah merasakan “patah hati yang terhebat”. Patah hati terhebat yang dimaksud disini adalah patah hati yang membuat kita benar-benar patah hati (istilahnya patah hati bangeettt gitu). Mungkin sampai kita nggak mau lagi kenal apa itu cinta. Dan dalam beberapa kasus, orang yang mengalami patah hati terhebat akan sulit membuka hatinya lagi, istilahnya mereka nggak mau pacaran lagi, atau ada beberapa yang beralih menjadi penyuka sesama jenis. *Aww~*

Bicara tentang patah hati yang gue alami, cukup banyak juga sih. Tapi yang sering terjadi pada gue adalah “Patah Hati Sebelum PDKT”. Jadi ceritanya gue suka cowok, tapi belum juga sempet PDKT udah patah hati duluan.

Cerita yang masih fresh terjadi minggu lalu. Gue lagi suka sama salah satu siswa kelas X, dia jago basket, anak paskib, pokoknya perfect banget lah di mata gue. Gue suka liat dia latihan paskib sama basket dari jendela kelas, kebetulan depan kelas gue itu lapangan basket yang sering dipake latihan paskib. Iya, gue tau. Panas. Gue tau dia pas ada Kegiatan Tengah Semester (KTS). Dia mewakili kelasnya lomba basket. Sejak saat itu gue jadi suka sama dia. Gue nggak tau dia sudah punya pacar atau belum. Kayaknya sih belum. Dan gue selalu berharap bisa kenal sama dia. Tapi nyatanya, gue nggak punya keberanian buat bisa selangkah lebih maju. Misal, ngajak dia kenalan. Gue nggak pernah ada keberanian. Alhasil, gue nggak pernah kenal dia, dan dia nggak pernah kenal gue. Itu adalah hal yang menyedihkan T_T. Tapi gue nggak nyerah. Semester ini, kelas XII ada tugas membuat Laporan Ilmiah. Kelompokku mengambil tema pendidikan. Untuk penyebaran angket, obyek kami adalah siswa kelas X. Alhasil aku memiliki kesempatan menyebarkan angket ke kelasnya. Yeey..Saat masuk ke kelasnya, rasanya deg-degan. Maklum, namanya juga gugup. Setelah gue perhatikan, ternyata dia lagi sibuk. Mungkin ngerjain tugas, atau apa gitu. Gue nggak tau. Tapi waktu gue perhatikan laptop yang nyala didepannya, ternyata dia lagi liat anime -__- 

Gue membagikan angket ke teman-temannya. Waktu gue nawarin angket ke dia, dia jawab “Maaf mbak, kasih ke teman belakang saya aja deh”. Deg. Satu kalimat itu kayak tombak yang diarahkan langsung ke hati gue. Meskipun gue nggak pernah tau gimana rasanya. Tapi kayaknya rasanya itu sakiiiiittt banget. Emang lebay sih. Cuma gitu aja bisa patah hati. Tapi bagi gue, itulah yang gue rasain. Sakit. Rasanya kayak ditolak mentah-mentah. Disitulah gue mengalami patah hati pertama di tahun 2015 ini. Dan sekarang gue berusa melupakan dia. Lagi-lagi gue menemukan satu jawaban, “Udah jalannya, mungkin bukan dia”. Tuhan akan memberikan yang lebih baik dari dia. Yakin.

Cerita yang hampir sama terjadi sekitar setahun lalu. Gue suka kakak kelas, sekarang udah jadi alumni. Ceritanya sama, dia nggak kenal gue karena gue nggak pernah ngajak dia kenalan. Kasusnya juga sama. Gue nggak punya keberanian buat kenalan sama dia. Bedanya gue tahu, kakak ini udah punya pacar. Huft.. hidup itu memang rumit ya… 0_0. Gue suka kakak ini waktu kelas X, sampai gue tahu dia udah punya pacar dan gue putuskan nggak berharap lebih jauh. Tapi, gue masih suka lihat dia olahraga, main volly, sampai terakhir gue ketemu dia pas ada expo universitas di sekolah beberapa minggu lalu. Dia kelihatan stylish banget dengan kemeja motif batik, celana jeans, dan sepatu casual yang serba biru (warna kesukaan gue). Ternyata dia nggak banyak berubah. Yang berubah, sekarang dia sudah mahasiswa dan tambah ganteng :3 Tapi tetep aja gue nggak berhak dan nggak akan pernah berhak memilikinya. Karena gue tau dia siapa, gue siapa. Oke, end.

Kisah terakhir bukan gue yang patah hati, tapi ini kisah patah hati seseorang yang disebabkan oleh gue. Ceritanya, entah kapan gue lupa. Mungkin sekitar  akhir tahun 2014. Ada nomor nyasar sms gue. Biasa, anak alay cari kenalan. Ngakunya sih namanya Ip**g. Entah siapa itu, gue nggak tau. Isi sms-nya kalau nggak salah sebaris lirik lagu yang gue lupa gimana, tapi selidik punya selidik ternyata merupakan lirik salah satu lagu Boomerang (betul nggak sih tulisannya?). Fyi (for your information), gue selalu males ngeladenin nomor nyasar kayak gitu, akhirnya setelah memastikan bahwa dia cowok, gue bales sms dia..

“Sorry bro, gue bukan maho (kata lain homoseksual). Jadi gue nggak tertarik bales sms elu.” dan akhirnya dia bales
“Oh, maaf mas. Nggak bermaksud ganggu kok.” dengan santai gue jawab
“Oke, gpp kok. Nyantai aja”. Send. Terus gue ketawa ngakak :v

Alhasil, dia mendapatkan Patah Hati Sebelum PDKT. Jahat banget emang gue. Tapi emang gue nggak pernah peduli dan tertarik sama nomor nyasar kayak gitu sih.
Jadi itulah kisah patah hati yang gue alami dua tahun belakagan ini. Sebenarnya ada beberapa kisah lagi sih, tapi masih harus berusaha mengingat-ingat. Mungkin karena sudah terlalu lama, entahlah. Gue cepat lupa cerita yang kayak gitu. Fyi, semua cerita diatas nggak bikin gue nangis kok. Gue nggak selemah itu. Yang pernah bikin gue nangis itu, patah hati pas gue sudah PDKT sama seseorang (bukan mereka yang gue ceritakan diatas). Kalau cerita diatas sih masih patah hati tahap awal. Yah, gue emang sudah terlatih untuk patah hati. Oke, see you readers


Yang lagi nggak patah hati,




           Penulis Blog 

0 komentar:

Posting Komentar